Friday, October 15, 2010

Rumah Kayu : Upaya Protektif dalam Menghadapi Gempa

Kompetisi Karya Publikasi “Rumah Aman Gempa” Kategori Multimedia Nonformal
Tema : “Rumah Aman Gempa untuk Indonesia”
Tema Khusus : “Kearifan lokal masyarakat tradisional dalam menciptakan rumah aman gempa”

Rumah Kayu : Upaya Protektif dalam Menghadapi Gempa

Menurut pakar gempa dari Universitas Andalas, Dr. Badrul Mustapa Kemal, Indonesia memiliki daerah yang rawan gempa bumi, tsunami, serta rawan letusan gunung api terjadi di sepanjang "ring of fire", mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Banda, hingga Maluku. Fakta ini mendasari terjadinya gempa dahsyat di Padang, Sumatera Barat pada 30 September 2009. Gempa yang telah menghancurkan rumah penduduk sebanyak 249.833 unit ini meninggalkan luka mendalam bagi penduduk Padang. Belum lagi jatuhnya korban jiwa dan kerugian materiil yang tidak terhitung jumlahnya.

Peristiwa ini menyadarkan kita untuk tetap waspada dan melakukan antisipasi dalam menghadapi gempa. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi korban dan kerugian yang ditimbulkan. Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) dalam hal ini berperan aktif dalam menciptakan rumah aman gempa untuk mencegah dampak kerusakan parah akibat gempa yang seringkali terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mempelajari rumah masyarakat tradisional yang umumnya terbuat dari kayu.

Rumah kayu merupakan salah satu solusi efektif dalam menciptakan rumah aman gempa. Sebagai contoh, kita dapat melihat rumah penduduk yang ada di Kampung Naga. Pada musibah gempa bumi berkekuatan 7,3 SR yang terjadi pada 2 September 2009 lalu, ternyata seluruh rumah warga Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya tidak ada yang rusak, meskipun lokasinya berdekatan dengan Desa Karangmukti yang menjadi korban gempa. Mereka menggunakan kayu sebagai bahan baku utama dalam pembuatan rumah.

Juru kunci Kampung Naga, Ade Suherlin mengungkapkan bahwa bangunan rumah adat tradisional di Kampung Naga mampu bertahan dari guncangan gempa bumi, bahkan hingga di atas kekuatan 10 SR. Hal ini patut diadaptasi BNPB sebagai upaya solutif dalam menciptakan rumah aman gempa yang sudah teruji di lapangan. Rupanya struktur dan pondasi bangunan rumah warga di Kampung Naga didesain dengan filosofi adat Sunda, yakni terbuat dari bahan kayu, bambu, dan menggunakan atap reng tanpa paku atau hanya menggunakan bambu penyangga yang disebut garumpai.

Garumpai yang digunakan sebagai tiang penyangga ini ternyata berfungsi untuk menjaga kepekaan kontruksi bangunan. Jika ada guncangan bisa mengikuti gerakan, lentur, dan fleksibel. Berbeda dengan rumah yang dibangun dari beton, kerangka bangunan yang keras dapat dipatahkan oleh kekuatan gempa dan mengakibatkan kerusakan parah pada rumah. Tiang penyangga yang terbuat dari beton juga sangat membahayakan keselamatan jiwa, jika rubuh dalam gempa.

Begitu pula Rumah Gadang yang ada di Padang. Gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 September 2009 tidak mampu merubuhkan rumah-rumah Gadang yang berbahan dasar kayu. Rumah Gadang berukuran 9 x 8 meter ini dibuat seperti rumah panggung, tingginya dua meter dari tanah dengan 16 tiang. Empat tiang berjejer masing-masing menopang bagian beranda hingga bagian belakang rumah. Tonggak rumah ini terbuat dari sebatang pohon kayu keras dan bulat dengan diameter 20 cm.

Kita dapat mengimplementasikan bahan dasar rumah Gadang yang terbuat dari jenis kayu Banio dan Surian yang tua dan keras, yang digunakan mulai dari dinding hingga tiangnya, sehingga berwarna coklat tua. Menurut masyarakat adat yang tinggal di rumah Gadang ini, pemeliharaan kayu agar tidak cepat lapuk sangatlah mudah. Cukup tinggali dan sapu rumah setiap hari. Kekuatan kayu ini juga diyakini mampu ditinggali tiga generasi tanpa kerusakan berarti akibat gempa.

Bahan pembuatan rumah Gadang dan Kampung Naga dapat menjadi pedoman bagi sektor konstruksi Indonesia dalam membangun rumah aman gempa secara berkesinambungan. Pemerintah dapat mengimbau para pelaku konstruksi yang ada di wilayah rawan gempa untuk menerapkan rumah kayu sebagai upaya protektif dalam menghadapi gempa. Rumah yang identik dengan masyarakat tradisional ini sudah sepatutnya kita tiru agar korban dan kerugian akibat gempa dapat diminimalisir.

Pembuatan rumah kayu ini sendiri dapat dilakukan dengan adanya sosialisasi dan pelatihan secara intensif dari BNPB dan pemerintah untuk membuat struktur rumah kayu yang tepat dalam menanggulangi gempa. Dalam hal ini, peran masyarakat tradisional sangat vital dalam mengarahkan dan mengajarkan kita untuk membuat rumah kayu aman gempa dengan baik dan benar. Upaya ini dilakukan bukan untuk menghalangi laju pembangunan modern, namun sebagai solusi dalam mendegradasi korban jiwa dan kerusakan rumah yang terjadi akibat gempa.

Saya berharap pemerintah dapat mengadopsi metode pembuatan rumah masyarakat tradisional ini guna menciptakan rumah aman gempa bagi setiap penduduk Indonesia.

Referensi :
http://www.rumahamangempa.net/isi/artikel/rumah-kayu-yang-tak-takluk-oleh-gempa
http://www.rumahamangempa.net/isi/artikel/mengevaluasi-teknik-pencairan-bantuan-rekonstruksi
http://www.rumahamangempa.net/isi/artikel#TOC-Rumah-Kayu-yang-tak-Takluk-oleh-Gem
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&jd=Rumah+Warga+Kampung+Naga+Tahan+Terhadap+Gempa&dn=20090928173814
http://www.antaranews.com/berita/1266788540/tiga-daerah-di-indonesia-tidak-rawan-gempa

~ oOo ~

No comments:

Post a Comment