Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Saturday, July 9, 2011

E-Learning : Education for All

Lomba Blog Technocorner
Tema : “Cyber-Education for Better Future of Indonesia

E-Learning : Education for All

Dewasa ini, kita hidup di era perbatasan dunia nyata dan maya. Dunia maya yang semula dianggap terpisah dengan dunia nyata kini memiliki peran yang vital dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Kita mungkin mengenal sosok Sinta-Jojo dan Briptu Norman sebagai orang biasa yang mendadak menjadi terkenal secara sekejap berkat kecanggihan dunia maya. Dunia maya kini memiliki hubungan yang paralel dengan dunia nyata.

Dimensi paralel dunia maya ini tentu memunculkan sebuah inovasi baru di bidang pendidikan. Jika selama ini, kita mengenal proses belajar sebagai sebuah interaksi antara guru dan murid, kini definisi itu telah berganti menjadi hubungan antara murid dengan sumber ilmu. Konektivitas dunia nyata dan maya membuat pendidikan kini mulai beralih pada sebuah sistem pendidikan baru yang dinamakan e-learning.

E-learning boleh dikatakan sebagai sebuah pemikiran yang out of the box. Mengapa demikian? E-learning mendobrak konvensionalitas pendidikan dunia yang mengharuskan adanya pertemuan antara guru dan murid dalam proses belajar. Dalam e-learning, murid tak perlu menjadikan guru sebagai satu-satunya patokan untuk belajar. Justru sistem ini membuat murid dikelilingi sumber ilmu yang memungkinkan mereka untuk menggali pengetahuan secara luas dan mendalam.

Selain itu, e-learning juga membuat pendidikan menjadi hak universal bagi semua orang di muka Bumi. Hanya dengan koneksi internet, murid dari belahan dunia manapun dapat mengakses e-learning. E-learning membuat pendidikan berlaku untuk semua orang, tidak hanya untuk segelintir orang saja yang memiliki kondisi ekonomi berkecukupan. E-learning juga menghemat pengeluaran biaya seragam, buku paket, dan lain sebagainya secara signifikan.

Memang e-learning tidak selamanya baik. Interaksi antarmasyarakat yang menurun dan kadar individualistik yang meningkat secara signifikan menjadi konsekuensi atas penerapan e-learning. Secara sosial, e-learning memang mengandung dampak negatif. Namun secara fungsional, e-learning sangat efektif dalam mengembalikan filosofi pendidikan itu sendiri. Tentu, cepat atau lambat era e-learning akan segera diadaptasi oleh semua negara di dunia dengan alasan kemajuan zaman. Satu hal yang patut kita pertahankan adalah bagaimana menjadikan e-learning sebagai sarana untuk membangun masa depan Indonesia ke arah yang lebih baik. Siapkan Anda mengadaptasi metode ini?

Thursday, October 28, 2010

Saya ingin belajar di JCU Singapore karena…

Penulisan Blog Ter-Kreatif JCU Singapore

Saya ingin belajar di JCU Singapore karena…

Pendidikan merupakan investasi terbesar di era globalisasi ini. Banyak remaja yang ingin melanjutkan pendidikannya di universitas ternama demi menunjang masa depan, karier, dan kesuksesan mereka. Sebagai pelajar yang duduk di kelas XII, saya dihadapkan pada dilema akan berbagai pilihan kompleks dalam memilih universitas terbaik. Saya melihat setiap universitas memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, sehingga sangat sulit untuk menentukkan pilihan di masa-masa peralihan menuju mahasiswa.

Suatu kali, saya membuka internet untuk mencari beasiswa dalam kelanjutan studi saya di universitas. Mata saya terpaku pada www.jcu.edu.sg, situs resmi dari JCU Singapore. Saya pikir studi di luar negeri tidak mungkin bagi saya. Biaya pendidikan yang mahal dan perbedaan budaya yang ada membuat saya berpikir lebih baik melanjutkan studi di luar negeri. Saya pun membaca sepintas dan saya menyadari bahwa saya keliru menilai JCU Singapore sama seperti universitas lainnya.

Saya pun membaca setiap fakta dan uraian yang dipaparkan dalam website tersebut. Perlahan namun pasti, muncul dorongan yang kuat untuk melanjutkan studi di JCU Singapore. Saya ingin belajar di JCU Singapore karena PINTAR.

P – Prestasi
Saya melihat JCU Singapore telah menorehkan catatan yang mengagumkan dengan menempati posisi ke-4 universitas terbaik di dunia. Di samping itu, universitas yang berdiri sejak tahun 2003 di Australia ini juga menjadi universitas riset terkemuka yang kualitas lulusannya tidak perlu diragukan lagi. Berbagai prestasi tingkat internasional sudah diraih mahasiswa JCU Singapore dan menunjukkan bahwa JCU Singapore bukan sekadar mencetak lulusan yang “berani di kandang sendiri”, tetapi dapat membuktikan intelektualitasnya di kancah dunia.

I – Interaktif
Konsep pembelajaran yang ada di JCU Singapore sangat interaktif karena terjadi komunikasi yang intens antara dosen dan mahasiswa. Berbeda dengan universitas yang pada umumnya hanya mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas pengajaran. JCU Singapore benar-benar serius dalam mencerdaskan mahasiswa dengan menyiapkan kelas yang intens dan terdiri dari belasan orang saja. Saya yakin melanjutkan studi di JCU Singapore adalah pilihan yang tepat karena dapat memantapkan dan menjadikan kita menjadi manusia yang cerdas karena intensitas pendidikan yang tinggi.

N – Negara
JCU Singapore didukung penuh oleh negara. Dalam hal ini, lulusan JCU Singapore dapat langsung bekerja di lembaga pemerintahan Singapore. Tentu kita tidak perlu khawatir lagi karena negara menjamin sepenuhnya tunjangan dan gaji kita setelah lulus dari JCU Singapore. Dukungan negara yang kuat inilah yang menjadikan kualitas JCU Singapore benar-benar teruji dan dinamis dalam menanggapi tuntutan zaman.

T – Teknologi
Berbicara tentang teknologi, JCU Singapore mempunyai fasilitas yang berteknologi tinggi. Sebut saja, ruang kuliah, seminar, laboratorium komputer, bistro, dan lapangan olahraga yang kondusif dan memadai untuk menunjang aktivitas pembelajaran. Setiap mahasiswa baru juga mendapat laptop gratis. Hal ini menunjukkan JCU Singapore sangat peduli pada perkembangan teknologi. Mahasiswa secara tidak langsung dididik untuk menguasai teknologi dalam menanggapi tuntutan era globalisasi ini.

A – Aplikatif
Program studi yang ada di JCU Singapore sangat aplikatif untuk diterapkan di dunia karier. Sebut saja, jurusan Manajemen Pariwisata dan Perhotelan. Kita akan dibekali ilmu praktik yang lebih besar dibandingkan teori di kelas. Sebut saja, cara melayani tamu, memasak, menata meja makan, dan lain sebagainya. Ilmu ini juga dapat langsung diterapkan setelah lulus di hotel-hotel yang ada di Singapore. JCU Singapore menyediakan ilmu yang benar-benar aplikatif dan dibutuhkan dewasa ini.

R – Relatif Terjangkau
JCU Singapore memberikan harga yang relatif terjangkau bagi pelajar Indonesia yang ingin mendapatkan universitas terbaik. Dengan kualitas dan peringkat yang tidak perlu diragukan, rasanya jarang sekali menemukan universitas yang menetapkan harga terjangkau bagi pelajar. Di samping itu, JCU Singapore juga memberikan beasiswa bagi pelajar berprestasi untuk melanjutkan studi. Tentu ini menunjukkan JCU Singapore bukanlah universitas yang mengejar keuntungan semata, melainkan kualitas dan kompetensi lulusan yang akan dihasilkan kelak.

Keenam komponen ini menjadi alasan utama saya untuk memilih JCU Singapore sebagai lembaga kelanjutan studi saya. Saya berharap JCU Singapore dapat menjadikan saya pribadi yang memiliki intelektualitas yang tinggi, sekaligus mampu menciptakan kesuksesan selepas dari JCU Singapore. Bravo JCU Singapore! Buat teman-teman yang tertarik, yuk cari tahu lebih lanjut tentang JCU Singapore di www.jcu.edu.sg dan 'Like' my entry di Facebook Fan Page.

~ oOo ~

Friday, October 22, 2010

Revitalisasi HAM Anak : Upaya Aktif dan Progresif Dalam Regenerasi Harapan Bangsa

Lomba Blog Tingkat Nasional 2010
Tema : “Anak Indonesia Harapan Masa Depan”

Revitalisasi HAM Anak : Upaya Aktif dan Progresif Dalam Regenerasi Harapan Bangsa

Berdasarkan data BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010, jumlah anak Indonesia yang terancam putus sekolah saat ini mencapai 13 juta yang terdiri dari usia tujuh sampai 15 tahun. Faktor ekonomi menjadi persoalan kompleks yang sampai saat ini dihadapi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Tak heran jika banyak keluarga tidak mampu memilih untuk tidak menyekolahkan anak mereka karena terbentur biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Fakta ini diperparah dengan meningkatnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun.

Kemiskinan membuat mereka terpaksa harus merelakan masa depan anak demi mencari sesuap nasi. Ironis memang, anak yang seyogianya mendapat HAM untuk pendidikan yang layak, justru harus menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini dapat kita saksikan sehari-hari di jalan raya. Anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun sudah mengamen dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya. Keselamatan mereka menjadi taruhan demi mendapat recehan dari para pengendara kendaraan bermotor.

Tak dapat dimungkiri jika tingkat kepedulian terhadap anak di Indonesia masih sangat minim. Pemerintah pun seolah dibuat bungkam dengan fakta anak jalanan yang ada di lapangan. Banyak rancangan dan peraturan dirancang sedemikian rupa, namun implementasi nyata di lapangan masih sebatas utopia belaka. Anak jalanan tetap merajai lampu merah dan berkeliaran dengan gitar mereka. Pemerintah masih belum turun tangan untuk merangkul mereka agar mereka bisa mendapat masa depan mereka.

Memang pemerintah sudah mencanangkan program Sekolah Gratis bagi keluarga yang tidak mampu. Namun upaya ini tidak cukup untuk memberikan kelegaan bagi orang tua. Di satu sisi, Sekolah Gratis yang ada tidak benar-benar “gratis” karena mempunyai embel-embel tertentu, seperti biaya buku pelajaran, seragam, dan perlengkapan sekolah lainnya yang memberatkan orang tua. Di sisi lain, muncul paradigma berbeda dari orang tua anak tersebut. Anak yang semula menjadi mesin uang karena berkeliaran di jalan raya, kini tidak lagi produktif karena sekolah. Muncul anggapan sekolah hanya mengurangi penghasilan mereka sehari-hari, sehingga mereka tetap kukuh untuk tidak menyekolahkan anak mereka.

Sampai saat ini, pemerintah kurang memperjuangkan HAM anak untuk mendapat pendidikan. Kebijakan birokrasi dan pemanfaatan APBN untuk pendidikan yang kurang optimal membuat realisasi HAM ini sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi pemerintah “seolah” disibukkan dengan merintis Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) untuk meningkatkan gengsi dan eksistensi di kancah internasional. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan nasib jutaan anak yang putus sekolah. Prioritas pemerintah yang tidak ditujukan untuk kesejahteraan anak ini menjadi bumerang dan lingkaran masalah yang tidak terputus dialami oleh anak Indonesia.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak juga masih marak terjadi di Indonesia. Anak yang dianggap makhluk kecil tak berdaya ini kerapkali menjadi korban kekerasan orang tua mereka. Anak seolah menjadi barang mainan yang dapat dilakukan seenaknya oleh orang tua mereka sendiri. Padahal, anak adalah aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Mereka kelak yang akan mewarisi cita-cita dan harapan bangsa ini. Tentu kita tidak ingin mereka mewarisi dendam, kepedihan, dan kebencian di masa mendatang.

RUU KDRT yang saat ini dirancang pun masih belum efektif direalisasikan di lapangan. Anak masih saja menjadi bulan-bulanan orang tua ketika terjadi pertengkaran suami istri. Anak dipukul, disiksa, dan dicaci ketika tidak menurut. Hal ini tentu berdampak buruk pada psikologis anak tersebut. Mereka dibayang-bayangi trauma dan akhirnya mereka menjadi bersikap menyimpang. Hal ini juga sekaligus menjadi pemicu banyaknya kenakalan remaja di Indonesia. Anak merasa bebas dan tidak mau diatur ketika dewasa karena kecewa dengan perlakuan orang tua mereka. KDRT tentu memupuskan harapan bangsa yang ada di tangan anak.

Kita juga masih sering mendengar kasus pelecehan seksual yang dilakukan terhadap anak. Kasus sodomi yang dilakukan Baekuni (49) terhadap anak jalanan asuhannya memicu keprihatinan kita. Apalagi aksi Baekuni yang dikenal dengan julukan Babeh ini diakhiri dengan mutilasi. Hal ini tentu menunjukkan bahwa anak-anak menjadi objek seksual yang empuk bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. HAM anak dalam hal ini diinjak-injak dan tidak lagi mendapat tempat dalam hati mereka.

Kasus pelecehan ini juga tak jarang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Anak dipaksa melayani nafsu bejat orang tua dan harus merelakan kesucian mereka direnggut begitu saja. Akibatnya anak menjadi tertutup, trauma, dan tak jarang yang akhirnya memilih bunuh diri sebagai jalan penyelesaian masalah. Mereka tak sanggup menghadapi beban mental yang diakibatkan oleh perilaku bejat orang tua mereka.

Pemerintah masih minim dalam menggiatkan kerja Komnas Perlindungan Anak (KPA) di Indonesia. HAM anak masih saja menjadi barang dagangan yang tidak henti-hentinya diperjualbelikan di Indonesia. Pada akhirnya, anak tidak dapat lagi diandalkan menjadi harapan masa depan karena kualitas pendidikan, mentalitas, dan sikap yang buruk dari pelanggaran terhadap HAM anak. Tentu hal ini patut kita kritisi bersama dan renungkan. Bayangkan jika kader penerus bangsa kita dirusak oleh perilaku amoral oleh generasi sekarang, apa jadinya nasib bangsa ini di masa mendatang.

Anak ibarat sebuah bibit. Mereka akan tumbuh sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Bagaimana didikan, perlakuan, dan pendidikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka kelak di masa mendatang. Bagi yang memberi pendidikan dan didikan terbaik, tentu akan menghasilkan anak berprestasi yang potensial sebagai harapan masa depan. Berbeda dengan yang memberi pola asuh dan perlakuan yang buruk, mereka akan menjerumuskan anak ke lubang hitam kegagalan.

Mengingat pentingnya keberadaan anak Indonesia dalam menyongsong masa depan bangsa, tentu kita harus menyiapkan upaya efektif dalam melindungi HAM anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan revitalisasi HAM anak. Hal ini berfungsi sebagai upaya aktif dan progresif dalam regenerasi harapan bangsa. Bagaimana generasi masa kini akan mewariskan kesuksesan mereka pada generasi yang akan datang lewat anak. Tentu dengan adanya revitalisasi ini diharapkan anak dapat meraih masa depan terbaiknya dan menjadi harapan masa depan bangsa yang kelak akan memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan FRIEND.

F – Family

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang akan membentuk karakter anak. Baik buruknya perilaku anak dapat dilihat dari didikan keluarga. Keluarga tentu harus memberikan sikap dan teladan yang baik pada anak. Sikap, tingkah laku, perbuatan, dan pola pikir terhadap suatu hal akan ditiru oleh anak. Tanamkan dalam diri anak bahwa mereka berharga dan menjadi prioritas keluarga.

Dalam hal ini, keluarga harus memfasilitasi anak dengan pendidikan yang baik. Saya terharu melihat program Tolong yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi mengisahkan perjuangan seorang ibu untuk mencari nafkah. Ibu itu berkata, “Yang penting, anak saya bisa sekolah. Itu harapan saya sebagai orang tua.” Saya melihat dedikasi dan niat ibu ini sangat besar dalam menyejahterakan nasib anak mereka di masa depan. Paradigma bahwa anak harus lebih baik dari orang tua mereka sangat dijunjung tinggi dan diperjuangkan demi kebaikan anak mereka sendiri. Saya acungkan jempol atas upaya ibu ini.

Kita dapat mencontoh sikap ibu ini terhadap anak. Anak kelak akan mewarisi bangsa ini. Tentu kita ingin bangsa Indonesia lebih maju dari masa ke masa. Anak sebagai tumpuan bangsa di masa depan harus kita pelihara dan didik dengan sebaik mungkin agar memiliki mentalitas yang baik. Lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh dalam membentuk jiwa anak. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua untuk mendidik anak mereka dengan sebaik-baiknya dan memenuhi HAM mereka untuk mendapat pendidikan.

R – Responsibility

Pemerintah dan keluarga dalam hal ini bertanggung jawab dan bertugas bahu membahu dalam mempersiapkan anak menjadi kader penerus bangsa yang dapat diandalkan. Bagi pemerintah, hal ini dapat diwujudkan dengan pemberian beasiswa bagi anak yang tidak mampu, menyelenggarakan sekolah gratis yang benar-benar “gratis”, serta mengadakan berbagai kompetisi yang mengasah sportivitas mereka. Bagi keluarga, memenuhi hak anak dalam memperoleh pendidikan, asupan gizi yang cukup, dan keamanan menjadi tanggung jawab yang harus dielam hal ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan anak dalam pembentukan intmban dan ditanamkan sejak dini.

Upaya ini diharapkan dapat membuat anak merasa nyaman dan aman untuk mendapatkan HAM mereka. Anak dapat memperkaya diri mereka dengan pendidikan dan pengetahuan yang ada. Kelak mereka juga akan mempelajari generasi masa kini dan berupaya menjadi generasi masa depan yang dapat diandalkan. ntuk mengembangkan potensinya secara maksimal dan terarah.

I – Integrity

Integritas sangat penting untuk ditanamkan dalam diri anak. Apalagi didasari fakta bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin yang duduk di bangku pemerintahan dapat dikatakan tidak mampu mengemban amanat rakyat. Dalam hal ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan anak dalam pembentukan integritas. Integritas akan menuntun anak menjadi pemimpin yang tegas, displin, dan bermoral tinggi. Tentu hal ini juga sekaligus akan mengurangi angka korupsi yang dilakukan pemimpin di masa mendatang. Dengan prinsip seia sekata, anak akan belajar untuk menjadi pribadi yang konsisten dan memiliki passion untuk memajukan Indonesia.

E – Education

Pendidikan memegang peranan penting bagi masa depan anak. Pendidikan akan menjadi katalisator dalam pembangunan bangsa. Anak akan belajar untuk kritis dan responsif dalam menanggapi berbagai persoalan krusial yang saat ini sedang dihadapi bangsa kita. Pendidikan juga menjadi indikator sejauh manakah kualitas anak Indonesia di mata dunia. Maka dari itu, pendidikan sangat penting untuk didapatkan anak guna mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

N – Nationality

Akhir-akhir ini, rasa nasionalisme yang dimiliki bangsa kita sangat memprihatinkan. Banyak anak muda yang tidak menghargai budaya dan tradisi bangsa kita yang begitu beragam. Alasannya bermacam-macam. Takut dianggap jadul, kolot, dan culun membuat anak muda menjadi begitu anti terhadap hal yang berbau tradisi Indonesia. Padahal budaya dan tradisi Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya.

Ironisnya, bangsa kita baru bertindak ketika ada negara lain yang ingin mengambil alih budaya bangsa kita. Tari Pendet, misalnya. Ketika tari Indonesia ini jatuh ke tangan negeri tetangga, kita seakan kebakaran jenggot. Berbagai upaya dan gerakan “ganyang” dilakukan untuk menunjukkan kepedulian. Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena mentalitas bangsa kita masih labil. Rasa nasionalisme yang ada pun sangat minim dan terancam punah karena adanya arus globalisasi. Globalisasi membuat sebagian orang ingin menjadi dan mengikuti budaya negara lain yang pada akhirnya akan menempatkan bangsa kita menjadi follower, bukan trendsetter bagi masyarakat dunia.

Minimnya rasa nasionalisme pada diri anak juga tampak dalam dunia pendidikan. Hampir semua anak berlomba-lomba untuk bersekolah di luar negeri. Mereka menilai pendidikan di luar negeri jauh lebih baik daripada pendidikan di Indonesia. Setelah lulus, mereka ibarat kacang lupa dengan kulitnya. Mereka pun akhirnya memilih tinggal menetap di luar negeri dengan asumsi bahwa Indonesia negeri yang sangat tidak bersahabat. Padahal perlu mereka ketahui bahwa seburuk-buruknya Indonesia tetaplah bangsa yang sudah melahirkan mereka menjadi manusia hingga saat ini.

Rasa nasionalisme dapat ditanamkan lewat pelajaran Sejarah. Pengajar dapat mendidik siswa untuk mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan pada masa penjajahan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tentu sebagai anak bangsa, kita harus mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan kebanggaan terhadap hal yang telah mereka wariskan. Rasa tanggung jawab akan kelangsungan dan eksistensi bangsa ini dapat menjadi modal awal yang baik untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri anak.

Upaya menumbuhkan rasa nasionalisme ini harus ditanamkan sejak dini oleh orang tua setiap anak. Berikan pemahaman bahwa bangsa ini adalah perjuangan dan hasil pengorbanan para pahlawan. Kebanggaan yang muncul dalam diri anak akan memberi mereka tantangan untuk memajukan bangsa ini lebih baik dari sebelumnya sebagai wujud ucapan terima kasih mereka. Akhirnya, rasa nasionalisme itu akan muncul dan dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, seperti memakai batik, menari jaipong, dan berbagai hal lainnya.

D – Destination

Anak Indonesia harus mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, anak harus mempunyai visi dan misi untuk hidup mereka ke depan. Apa yang akan mereka lakukan dalam membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju? Tentu pemahaman akan tujuan hidup ini harus diperkenalkan lewat lembaga pendidikan. Sekolah berfungsi untuk menelusuri potensi dan bakat anak. Sekolah juga harus memberikan wadah yang tepat agar potensi anak dapat terarah dan dioptimalkan dengan sebaik-baiknya.

Ketika anak sudah mengetahui tujuan hidupnya, mereka tentu akan lebih bersemangat dalam mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif. Mereka dapat mengembangkan bakat dan minat mereka secara efektif. Hal ini dapat menjadi modal yang baik bagi negara karena bisa mendapat bibit-bibit unggul harapan bangsa yang bisa memajukan Indonesia kelak di masa mendatang. Dedikasi dan kesungguhan dalam meraih tujuan yang dimiliki anak juga akan membuat mereka berpikir kreatif, aktif, dan terbuka dalam memajukan bangsa Indonesia dengan lebih baik. Pendidikan akan membuat mereka berpikiran terbuka dan dapat mengakomodasi apa yang baik untuk diikuti dan menghindari hal yang buruk.

Upaya revitalisasi HAM anak di atas diharapkan dapat menjadi upaya aktif dan progresif dalam regenerasi harapan bangsa. Anak dibekali dengan harapan, ilmu, cita-cita, sikap, mentalitas, dan karakter yang baik untuk memajukan bangsa ini. Regenerasi harapan bangsa yang diharapkan pun dapat direalisasikan dengan baik karena anak sudah mempunyai modal awal yang baik untuk membangun bangsa ini kelak. Bangsa ini dapat keluar dari krisis multidimensional yang saat ini sedang terjadi, asalkan pemerintah dan keluarga mampu melakukan revitalisasi terhadap HAM anak dan mempersiapkan anak menjadi aset harapan masa depan yang tidak ternilai harganya.

Link : http://smartblogcompetition.blogspot.com

~ oOo ~

Wednesday, May 19, 2010

Menjadi Bangsa yang Berkarakter

Lomba Opini Indonesia Berprestasi
Tema : “Pendidikan Indonesia : Mau Dibawa Ke Mana?”

Menjadi Bangsa yang Berkarakter
Oleh. Daniel Hermawan

Pendidikan ibarat sebuah kunci untuk membuka pintu dunia. Pendidikan memegang peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengutamakan pendidikan bagi warganya. Berbagai inovasi, pemikiran, penemuan, dan ide-ide cemerlang lahir dari proses pendidikan. Pendidikan membuat suatu bangsa berpikir kreatif, kritis, dan ingin tahu. Bangsa yang tidak mengenal pendidikan lambat laun akan tergerus oleh arus zaman.

Saat ini pendidikan menjadi isu hangat yang dibicarakan di Indonesia. Berbagai media massa dan elektronik menyajikan berita seputar wajah pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari kasus plagiarisme hingga anak putus sekolah. Kasus yang terjadi di lembaga pendidikan ini telah mencoreng citra pendidikan Indonesia di mata internasional. Dunia internasional mulai meragukan kualitas dan kompetensi lulusan Indonesia akibat kasus pelanggaran akademis yang terjadi.

Kasus plagiarisme yang dilakukan Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita selaku staf pengajar mata kuliah Hubungan Internasional di salah satu universitas swasta yang cukup terkemuka di Indonesia telah menodai citra pengajar Indonesia. Pengajar yang seyogianya memberi teladan bagi peserta didik, justru melakukan pelanggaran akademis yang fatal. Akibat perbuatan ini, Prof. Dr. Anak Agung terancam dipecat dan gelar doktor yang sandangnya saat ini juga terancam dicopot.

Di kalangan pelajar, MZ selaku mahasiswa program doktor di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia juga terlibat dalam kasus serupa. MZ menjiplak laporan penelitian ilmuwan Belgia yang diikutsertakan dalam lomba penelitian internasional di China tanpa melampirkan sumber kutipan dan referensi. Akibatnya, gelar doktor MZ dicabut dan nama baik universitas MZ menjadi tercoreng.

Di sisi lain, kemiskinan juga masih menjadi masalah utama kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebanyak 8.800 anak putus sekolah terpaksa mengamen dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padahal mereka masih berusia sangat belia dan berada dalam usia anak sekolah. Mereka harus merelakan masa depan mereka demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan program BOS dan Sekolah Gratis di Indonesia. Sayangnya kedua program ini belum memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan Indonesia. Banyak pihak yang seharusnya menjadi sasaran utama program ini justru tidak mendapatkan haknya. Sekolah Gratis juga tidak benar-benar “gratis” dengan berbagai biaya operasional sekolah yang ada, seperti buku pelajaran, seragam, fotokopi, dan lain sebagainya. Akhirnya keberadaan kedua program ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Jujur saya prihatin melihat kasus Bank Century yang tak kunjung usai. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR seakan sibuk dengan berbagai permainan politik yang menguntungkan partainya. Sikap dan tindakan para wakil DPR juga tidak mencerminkan orang yang terdidik dengan aksi dorong-dorongan dan maki-memaki di ruang DPR. Sungguh memprihatinkan memang. Pada akhirnya, pendidikan bangsa yang menjadi kunci keberhasilan suatu bangsa menjadi prioritas yang terabaikan.

Saya rasa pendidikan Indonesia saat ini sudah mengalami degradasi moral. Era kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang di Indonesia membuat norma-norma susila yang ada mulai diabaikan. Banyak orang kini menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, tergantung sudut pandang orang tersebut. Sesuatu yang awalnya dianggap tabu, kini dianggap sebagai sebuah kewajaran. Tak heran jika perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, plagiarisme, mencuri, dan berbagai kasus lainnya kini dapat diartikan sebagai kebenaran bagi sekelompok orang.

Melihat fenomena ini, pemerintah mengusung tema Hari Pendidikan Nasional 2010 : “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Degradasi moral yang terjadi di dunia pendidikan saat ini dapat diatasi jika kita membenahi karakter dan pola pikir kita selama ini. Kepandaian memang kunci keberhasilan suatu bangsa. Namun, kepandaian tanpa karakter lambat laun akan menghancurkan keberhasilan yang dicapai. Karakter akan membatasi dan memberikan garis yang jelas antara sesuatu yang baik dan buruk untuk dilakukan.

Pendidikan karakter sendiri dapat diberikan di lembaga pendidikan sedari dini. Pelajar harus diajarkan dan dibina untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Karakter manusia sendiri mencakup nilai-nilai luhur, integritas, kekuatan mental, tenggang rasa, semangat kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Karakter akan membuat seseorang menjadi cerdas, baik secara intelektual maupun moral.

Menumbuhkan bangsa yang berkarakter memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengajar dan pemerintah harus bekerja sama dalam mengikis nilai-nilai kebebasan dan individualisme yang melekat dalam diri pelajar. Terlepas dari itu, keluarga juga turut membentuk karakter seseorang sedari dini. Keluarga harus menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan pemahaman yang benar seputar karakter. Karakter dapat ditumbuhkan dari sikap keteladanan seseorang yang menjadi cerminan bagi orang lain.

Karakter ibarat sebuah pijakan yang menghantarkan kemajuan suatu bangsa. Tugas kita sekarang sebagai pelajar, pengajar, pemerintah, dan keluarga adalah menggali kembali nilai-nilai kebenaran yang tergerus oleh arus zaman. Karakter akan menempatkan manusia pada posisi yang tepat dan potensi yang maksimal. Maka mari kita wujudkan bangsa yang berkarakter dengan membenahi pola pikir dan mentalitas kita selama ini.

~ oOo ~

Friday, April 30, 2010

Belanda : Putaran Kincir Masa Depan

Kompetiblog Studi di Belanda

Belanda : Putaran Kincir Masa Depan
By. Daniel Hermawan

Saat mendengar kata Belanda, yang pertama kali terlintas di benak saya kincir anginnya. Lho kok? Ya, kincir ini digunakan untuk menumbuk biji-bijian, bahkan untuk menimba air. Jika dikaitkan dengan kemajuan bangsa, Belanda memiliki andil yang cukup vital dalam perkembangan masa depan.

Mengapa?
Akan saya jawab dalam SMART.

S - Sociable
Saya terkesan dengan Radio Nederland Wereldomroep yang sudah berkiprah di berbagai negara. Radio ini menjadi bukti bahwa perkembangan ilmu pengetahuan Belanda tak kalah dengan negara maju lainnya.

M - Mind
Belanda adalah negara yang selalu menuntut peserta didiknya untuk berpikir secara logis, analitis, dan kritis. Hampir setiap proses pembelajaran di Belanda 90% melibatkan interaktivitas antar peserta didik. Selebihnya guru hanya memonitoring kinerja peserta didik dan mengarahkannya ke arah yang lebih baik.

A - Ability
Belajar di Belanda tidak memerlukan otak yang super jenius. Anda hanya perlu kreatif dan mengembangkan bakat Anda di sini. Banyak lembaga yang mewadahi potensi besar Anda.

R - Relation
Hubungan antar teman juga multikultural dengan berbagai Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Kita dituntut untuk saling menghargai dan mengapresiasi setiap orang. Uniknya, kita bisa punya teman ari berbagai negara.

T - Time
Belanda adalah negara yang sangat menghargai waktu. Tentu kita harus efektif dan efisien dalam menggunakan waktu di Belanda agar kegiatan kita tidak terbengkelai dan menumpuk. Sistem pendidikan yang cukup padat juga perlu disiasati dengan displin waktu.

Wah melihat 5 aspek di atas, rasanya kemajuan ilmu pengetahuan di Belanda sudah tidak perlu diragukan lagi. Belanda seakan menjadi putaran kincir masa depan. Meskipun nama Belanda belum terdengar di blantika pendidikan dunia, saya yakin dengan kualifikasi dan kualitas yang diemban sistem pendidikan Belanda akan menghasilkan lulusan berprestasi dunia. Belanda akan menjadi kincir yang menggerakkan perputaran roda dunia.

Mustahil? Tentu tidak. Karena mungkin kitalah kader-kader lulusan Belanda yang siap dipakai dunia.

~ oOo ~