Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Sunday, December 5, 2010

Mila, Si Anak Ajaib

Lomba Celoteh Anak Blogfam

Mila, Si Anak Ajaib

banner-celoteh-anak
Masa anak-anak pastinya menjadi masa-masa paling menyenangkan, sekaligus merepotkan bagi orang tua di seluruh dunia. Repot karena kerewelan dan sulitnya mengatur anak-anak yang masih kecil nan lincah. Sebagai orang tua, tentu kita tidak mungkin bermain kucing-kucingan dengan anak sendiri, bukan? Bisa-bisa kita ngos-ngosan mengejar anak untuk makan, mandi, dan belajar.

Di balik itu, ternyata banyak hal menyenangkan yang kita dapatkan dari dunia anak-anak lho. Sadar tidak sadar, anak-anak banyak mempengaruhi kita untuk tetap tersenyum dan bergembira sepanjang saat. Anak-anak yang masih polos, lucu, dan menggemaskan itu punya imajinasi yang tinggi. Berbeda dengan kita yang sudah berumur, yang berpikir realistis dan apa adanya. Nah dari imajinasi itulah, anak-anak melantunkan celotehan yang membuat saya tidak habis pikir dan tertawa terbahak-bahak.

Waktu itu, saya sedang mencuci piring di dapur. Kebetulan hari mulai beranjak maghrib dan tiba saatnya bagi saya untuk memandikan si kecil. “Mil, ayo ke sini. Sekarang kita mandi yuk!” ajak saya padanya. “Ga mau ah. Mila masih mau main.” balasnya cepat. Aku pun menghampiri Mila yang sedang sibuk berkutat dengan boneka Barbienya. “Cepat Mila nanti kamu masuk angin!” kata saya perlahan. Ku lihat Mila tetap asyik saja dengan properti Barbie lainnya tanpa mempedulikan saya.

Krik… krik… krik… Waktu pun berjalan dengan lambatnya. Tidak ada respon dari Mila sedikitpun. “Mila, cepat mandi! Mama mau beresin pekerjaan yang lain!” kataku cepat. Kali ini, Mila menatapku dengan polos. “Tapi Mila juga mau mandiin Barbienya, Ma. Kasihan nanti mereka bau.” katanya sambil menunjukkan wajah tak berdosa. Gubrak! “Ya sayang, nanti Barbienya bisa kamu mandiin setelah kamu mandi ya.” kataku mulai tak sabar.

Mila kembali sibuk dengan aktivitasnya. “Mila, kamu mau masuk angin ya?” kataku kencang. “Ih, mama kenapa rebut sih. Di sini ga ada angin, Ma. Jendela udah Mila tutup semua. Ga mungkin Mila masuk angin dong, Ma. Gimana sih mama?” katanya cepat. Aku kehabisan kata-kata untuk menghadapi anak ajaib ini. Akhirnya, ku tarik paksa Mila ke kamar mandi.

“Mila, sekarang kamu ikut mama ke kamar mandi!” perintahku cepat sambil menarik lengan Mila. Mila pun beranjak turun dari kursinya sambil melambai pada boneka Barbienya. “Barbie, dadah. Nanti aku dandanin kamu lagi ya.” katanya perlahan. Aku manarik nafas sejenak.

“Ma, kenapa sih papa suka semprot-semprot parfum di kamar? Padahal kan kamarnya ga bau.” tanya Mila perlahan. Aku pun menjawab sambil membersihkan sabun yang ada di sekujur tubuhnya. “Mila, papa itu sedang semprot obat nyamuk, bukan parfum. Obat nyamuk itu fungsinya buat bunuh nyamuk. Di kamar papa kebetulan banyak nyamuk yang gigit kaki papa. Gitu.” jawabku sesingkat-singkatnya. “Lho kok nyamuknya dikasih obat nyamuk. Bukannya nyamuknya jadi sembuh udah makan obat nyamuk?” tanyanya polos. Gubrak! Lagi-lagi aku kalah telah dari Mila.

Sesudah mandi, Mila pun ku ajak untuk menelepon papanya. “Mila, nanti kamu telepon papa dulu ya. Kamu harus bilang ‘aku sayang papa’ ya. Ngerti Mila?” tanyaku perlahan. Mila pun mengangguk-anggukan kepalanya. Ku sambungkan telepon ke ponsel ayahnya. Aku pun menyodorkan telepon ke Mila. “Ayo jawab sesuai yang mama minta ya Mila.” bisikku padanya. Telepon pun tersambung.

“Halo…” katanya panjang. “Mila? Halo juga. Ada apa, Nak?” tanya suara di seberang sana. “Aku dipaksa mama suruh bilang aku sayang papa.” kata Mila singkat. What’s? Ku dengar papanya tertawa cekikikan di telepon. “Mila, nanti kamu bilang ‘papa sayang mama’ ya ke mama. Bilang dipaksa papa. Dadah Mila.” kata papanya sambil menutup telepon. Mila hanya memandangku dengan tatapan tak bersalah.

Aku pun terkekeh melihat tingkah anak kecilku ini. Memang dunia anak sulit diselami orang tua sepertiku. Bangga juga aku memiliki Mila, si anak ajaib itu dengan celoteh polosnya.

Friday, October 22, 2010

Revitalisasi HAM Anak : Upaya Aktif dan Progresif Dalam Regenerasi Harapan Bangsa

Lomba Blog Tingkat Nasional 2010
Tema : “Anak Indonesia Harapan Masa Depan”

Revitalisasi HAM Anak : Upaya Aktif dan Progresif Dalam Regenerasi Harapan Bangsa

Berdasarkan data BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010, jumlah anak Indonesia yang terancam putus sekolah saat ini mencapai 13 juta yang terdiri dari usia tujuh sampai 15 tahun. Faktor ekonomi menjadi persoalan kompleks yang sampai saat ini dihadapi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Tak heran jika banyak keluarga tidak mampu memilih untuk tidak menyekolahkan anak mereka karena terbentur biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Fakta ini diperparah dengan meningkatnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun.

Kemiskinan membuat mereka terpaksa harus merelakan masa depan anak demi mencari sesuap nasi. Ironis memang, anak yang seyogianya mendapat HAM untuk pendidikan yang layak, justru harus menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini dapat kita saksikan sehari-hari di jalan raya. Anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun sudah mengamen dari satu kendaraan ke kendaraan lainnya. Keselamatan mereka menjadi taruhan demi mendapat recehan dari para pengendara kendaraan bermotor.

Tak dapat dimungkiri jika tingkat kepedulian terhadap anak di Indonesia masih sangat minim. Pemerintah pun seolah dibuat bungkam dengan fakta anak jalanan yang ada di lapangan. Banyak rancangan dan peraturan dirancang sedemikian rupa, namun implementasi nyata di lapangan masih sebatas utopia belaka. Anak jalanan tetap merajai lampu merah dan berkeliaran dengan gitar mereka. Pemerintah masih belum turun tangan untuk merangkul mereka agar mereka bisa mendapat masa depan mereka.

Memang pemerintah sudah mencanangkan program Sekolah Gratis bagi keluarga yang tidak mampu. Namun upaya ini tidak cukup untuk memberikan kelegaan bagi orang tua. Di satu sisi, Sekolah Gratis yang ada tidak benar-benar “gratis” karena mempunyai embel-embel tertentu, seperti biaya buku pelajaran, seragam, dan perlengkapan sekolah lainnya yang memberatkan orang tua. Di sisi lain, muncul paradigma berbeda dari orang tua anak tersebut. Anak yang semula menjadi mesin uang karena berkeliaran di jalan raya, kini tidak lagi produktif karena sekolah. Muncul anggapan sekolah hanya mengurangi penghasilan mereka sehari-hari, sehingga mereka tetap kukuh untuk tidak menyekolahkan anak mereka.

Sampai saat ini, pemerintah kurang memperjuangkan HAM anak untuk mendapat pendidikan. Kebijakan birokrasi dan pemanfaatan APBN untuk pendidikan yang kurang optimal membuat realisasi HAM ini sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi pemerintah “seolah” disibukkan dengan merintis Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) untuk meningkatkan gengsi dan eksistensi di kancah internasional. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan nasib jutaan anak yang putus sekolah. Prioritas pemerintah yang tidak ditujukan untuk kesejahteraan anak ini menjadi bumerang dan lingkaran masalah yang tidak terputus dialami oleh anak Indonesia.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) terhadap anak juga masih marak terjadi di Indonesia. Anak yang dianggap makhluk kecil tak berdaya ini kerapkali menjadi korban kekerasan orang tua mereka. Anak seolah menjadi barang mainan yang dapat dilakukan seenaknya oleh orang tua mereka sendiri. Padahal, anak adalah aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Mereka kelak yang akan mewarisi cita-cita dan harapan bangsa ini. Tentu kita tidak ingin mereka mewarisi dendam, kepedihan, dan kebencian di masa mendatang.

RUU KDRT yang saat ini dirancang pun masih belum efektif direalisasikan di lapangan. Anak masih saja menjadi bulan-bulanan orang tua ketika terjadi pertengkaran suami istri. Anak dipukul, disiksa, dan dicaci ketika tidak menurut. Hal ini tentu berdampak buruk pada psikologis anak tersebut. Mereka dibayang-bayangi trauma dan akhirnya mereka menjadi bersikap menyimpang. Hal ini juga sekaligus menjadi pemicu banyaknya kenakalan remaja di Indonesia. Anak merasa bebas dan tidak mau diatur ketika dewasa karena kecewa dengan perlakuan orang tua mereka. KDRT tentu memupuskan harapan bangsa yang ada di tangan anak.

Kita juga masih sering mendengar kasus pelecehan seksual yang dilakukan terhadap anak. Kasus sodomi yang dilakukan Baekuni (49) terhadap anak jalanan asuhannya memicu keprihatinan kita. Apalagi aksi Baekuni yang dikenal dengan julukan Babeh ini diakhiri dengan mutilasi. Hal ini tentu menunjukkan bahwa anak-anak menjadi objek seksual yang empuk bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. HAM anak dalam hal ini diinjak-injak dan tidak lagi mendapat tempat dalam hati mereka.

Kasus pelecehan ini juga tak jarang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Anak dipaksa melayani nafsu bejat orang tua dan harus merelakan kesucian mereka direnggut begitu saja. Akibatnya anak menjadi tertutup, trauma, dan tak jarang yang akhirnya memilih bunuh diri sebagai jalan penyelesaian masalah. Mereka tak sanggup menghadapi beban mental yang diakibatkan oleh perilaku bejat orang tua mereka.

Pemerintah masih minim dalam menggiatkan kerja Komnas Perlindungan Anak (KPA) di Indonesia. HAM anak masih saja menjadi barang dagangan yang tidak henti-hentinya diperjualbelikan di Indonesia. Pada akhirnya, anak tidak dapat lagi diandalkan menjadi harapan masa depan karena kualitas pendidikan, mentalitas, dan sikap yang buruk dari pelanggaran terhadap HAM anak. Tentu hal ini patut kita kritisi bersama dan renungkan. Bayangkan jika kader penerus bangsa kita dirusak oleh perilaku amoral oleh generasi sekarang, apa jadinya nasib bangsa ini di masa mendatang.

Anak ibarat sebuah bibit. Mereka akan tumbuh sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Bagaimana didikan, perlakuan, dan pendidikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku mereka kelak di masa mendatang. Bagi yang memberi pendidikan dan didikan terbaik, tentu akan menghasilkan anak berprestasi yang potensial sebagai harapan masa depan. Berbeda dengan yang memberi pola asuh dan perlakuan yang buruk, mereka akan menjerumuskan anak ke lubang hitam kegagalan.

Mengingat pentingnya keberadaan anak Indonesia dalam menyongsong masa depan bangsa, tentu kita harus menyiapkan upaya efektif dalam melindungi HAM anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan revitalisasi HAM anak. Hal ini berfungsi sebagai upaya aktif dan progresif dalam regenerasi harapan bangsa. Bagaimana generasi masa kini akan mewariskan kesuksesan mereka pada generasi yang akan datang lewat anak. Tentu dengan adanya revitalisasi ini diharapkan anak dapat meraih masa depan terbaiknya dan menjadi harapan masa depan bangsa yang kelak akan memimpin bangsa ini ke arah yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan FRIEND.

F – Family

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang akan membentuk karakter anak. Baik buruknya perilaku anak dapat dilihat dari didikan keluarga. Keluarga tentu harus memberikan sikap dan teladan yang baik pada anak. Sikap, tingkah laku, perbuatan, dan pola pikir terhadap suatu hal akan ditiru oleh anak. Tanamkan dalam diri anak bahwa mereka berharga dan menjadi prioritas keluarga.

Dalam hal ini, keluarga harus memfasilitasi anak dengan pendidikan yang baik. Saya terharu melihat program Tolong yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi mengisahkan perjuangan seorang ibu untuk mencari nafkah. Ibu itu berkata, “Yang penting, anak saya bisa sekolah. Itu harapan saya sebagai orang tua.” Saya melihat dedikasi dan niat ibu ini sangat besar dalam menyejahterakan nasib anak mereka di masa depan. Paradigma bahwa anak harus lebih baik dari orang tua mereka sangat dijunjung tinggi dan diperjuangkan demi kebaikan anak mereka sendiri. Saya acungkan jempol atas upaya ibu ini.

Kita dapat mencontoh sikap ibu ini terhadap anak. Anak kelak akan mewarisi bangsa ini. Tentu kita ingin bangsa Indonesia lebih maju dari masa ke masa. Anak sebagai tumpuan bangsa di masa depan harus kita pelihara dan didik dengan sebaik mungkin agar memiliki mentalitas yang baik. Lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh dalam membentuk jiwa anak. Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua untuk mendidik anak mereka dengan sebaik-baiknya dan memenuhi HAM mereka untuk mendapat pendidikan.

R – Responsibility

Pemerintah dan keluarga dalam hal ini bertanggung jawab dan bertugas bahu membahu dalam mempersiapkan anak menjadi kader penerus bangsa yang dapat diandalkan. Bagi pemerintah, hal ini dapat diwujudkan dengan pemberian beasiswa bagi anak yang tidak mampu, menyelenggarakan sekolah gratis yang benar-benar “gratis”, serta mengadakan berbagai kompetisi yang mengasah sportivitas mereka. Bagi keluarga, memenuhi hak anak dalam memperoleh pendidikan, asupan gizi yang cukup, dan keamanan menjadi tanggung jawab yang harus dielam hal ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan anak dalam pembentukan intmban dan ditanamkan sejak dini.

Upaya ini diharapkan dapat membuat anak merasa nyaman dan aman untuk mendapatkan HAM mereka. Anak dapat memperkaya diri mereka dengan pendidikan dan pengetahuan yang ada. Kelak mereka juga akan mempelajari generasi masa kini dan berupaya menjadi generasi masa depan yang dapat diandalkan. ntuk mengembangkan potensinya secara maksimal dan terarah.

I – Integrity

Integritas sangat penting untuk ditanamkan dalam diri anak. Apalagi didasari fakta bahwa Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin yang duduk di bangku pemerintahan dapat dikatakan tidak mampu mengemban amanat rakyat. Dalam hal ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan anak dalam pembentukan integritas. Integritas akan menuntun anak menjadi pemimpin yang tegas, displin, dan bermoral tinggi. Tentu hal ini juga sekaligus akan mengurangi angka korupsi yang dilakukan pemimpin di masa mendatang. Dengan prinsip seia sekata, anak akan belajar untuk menjadi pribadi yang konsisten dan memiliki passion untuk memajukan Indonesia.

E – Education

Pendidikan memegang peranan penting bagi masa depan anak. Pendidikan akan menjadi katalisator dalam pembangunan bangsa. Anak akan belajar untuk kritis dan responsif dalam menanggapi berbagai persoalan krusial yang saat ini sedang dihadapi bangsa kita. Pendidikan juga menjadi indikator sejauh manakah kualitas anak Indonesia di mata dunia. Maka dari itu, pendidikan sangat penting untuk didapatkan anak guna mempersiapkan mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

N – Nationality

Akhir-akhir ini, rasa nasionalisme yang dimiliki bangsa kita sangat memprihatinkan. Banyak anak muda yang tidak menghargai budaya dan tradisi bangsa kita yang begitu beragam. Alasannya bermacam-macam. Takut dianggap jadul, kolot, dan culun membuat anak muda menjadi begitu anti terhadap hal yang berbau tradisi Indonesia. Padahal budaya dan tradisi Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya.

Ironisnya, bangsa kita baru bertindak ketika ada negara lain yang ingin mengambil alih budaya bangsa kita. Tari Pendet, misalnya. Ketika tari Indonesia ini jatuh ke tangan negeri tetangga, kita seakan kebakaran jenggot. Berbagai upaya dan gerakan “ganyang” dilakukan untuk menunjukkan kepedulian. Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena mentalitas bangsa kita masih labil. Rasa nasionalisme yang ada pun sangat minim dan terancam punah karena adanya arus globalisasi. Globalisasi membuat sebagian orang ingin menjadi dan mengikuti budaya negara lain yang pada akhirnya akan menempatkan bangsa kita menjadi follower, bukan trendsetter bagi masyarakat dunia.

Minimnya rasa nasionalisme pada diri anak juga tampak dalam dunia pendidikan. Hampir semua anak berlomba-lomba untuk bersekolah di luar negeri. Mereka menilai pendidikan di luar negeri jauh lebih baik daripada pendidikan di Indonesia. Setelah lulus, mereka ibarat kacang lupa dengan kulitnya. Mereka pun akhirnya memilih tinggal menetap di luar negeri dengan asumsi bahwa Indonesia negeri yang sangat tidak bersahabat. Padahal perlu mereka ketahui bahwa seburuk-buruknya Indonesia tetaplah bangsa yang sudah melahirkan mereka menjadi manusia hingga saat ini.

Rasa nasionalisme dapat ditanamkan lewat pelajaran Sejarah. Pengajar dapat mendidik siswa untuk mengetahui bagaimana perjuangan para pahlawan pada masa penjajahan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tentu sebagai anak bangsa, kita harus mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan kebanggaan terhadap hal yang telah mereka wariskan. Rasa tanggung jawab akan kelangsungan dan eksistensi bangsa ini dapat menjadi modal awal yang baik untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri anak.

Upaya menumbuhkan rasa nasionalisme ini harus ditanamkan sejak dini oleh orang tua setiap anak. Berikan pemahaman bahwa bangsa ini adalah perjuangan dan hasil pengorbanan para pahlawan. Kebanggaan yang muncul dalam diri anak akan memberi mereka tantangan untuk memajukan bangsa ini lebih baik dari sebelumnya sebagai wujud ucapan terima kasih mereka. Akhirnya, rasa nasionalisme itu akan muncul dan dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, seperti memakai batik, menari jaipong, dan berbagai hal lainnya.

D – Destination

Anak Indonesia harus mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, anak harus mempunyai visi dan misi untuk hidup mereka ke depan. Apa yang akan mereka lakukan dalam membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju? Tentu pemahaman akan tujuan hidup ini harus diperkenalkan lewat lembaga pendidikan. Sekolah berfungsi untuk menelusuri potensi dan bakat anak. Sekolah juga harus memberikan wadah yang tepat agar potensi anak dapat terarah dan dioptimalkan dengan sebaik-baiknya.

Ketika anak sudah mengetahui tujuan hidupnya, mereka tentu akan lebih bersemangat dalam mengisi hari-hari mereka dengan kegiatan positif. Mereka dapat mengembangkan bakat dan minat mereka secara efektif. Hal ini dapat menjadi modal yang baik bagi negara karena bisa mendapat bibit-bibit unggul harapan bangsa yang bisa memajukan Indonesia kelak di masa mendatang. Dedikasi dan kesungguhan dalam meraih tujuan yang dimiliki anak juga akan membuat mereka berpikir kreatif, aktif, dan terbuka dalam memajukan bangsa Indonesia dengan lebih baik. Pendidikan akan membuat mereka berpikiran terbuka dan dapat mengakomodasi apa yang baik untuk diikuti dan menghindari hal yang buruk.

Upaya revitalisasi HAM anak di atas diharapkan dapat menjadi upaya aktif dan progresif dalam regenerasi harapan bangsa. Anak dibekali dengan harapan, ilmu, cita-cita, sikap, mentalitas, dan karakter yang baik untuk memajukan bangsa ini. Regenerasi harapan bangsa yang diharapkan pun dapat direalisasikan dengan baik karena anak sudah mempunyai modal awal yang baik untuk membangun bangsa ini kelak. Bangsa ini dapat keluar dari krisis multidimensional yang saat ini sedang terjadi, asalkan pemerintah dan keluarga mampu melakukan revitalisasi terhadap HAM anak dan mempersiapkan anak menjadi aset harapan masa depan yang tidak ternilai harganya.

Link : http://smartblogcompetition.blogspot.com

~ oOo ~

Wednesday, September 22, 2010

Hati Seorang Ibu

Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu
Persembahan UNGU & Chocolatos

Hati Seorang Ibu
By. Daniel Hermawan

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”
(Marion C. Garretty)

Ku amati lekat sosok wanita tua yang senantiasa menyambutku sepulang sekolah. “Sudah pulang, Nil? Gimana tadi sekolahnya? Susah gak?” Itulah pertanyaan rutin yang selalu dilayangkannya padaku. Pertanyaan yang kadang membuatku jengkel dan bosan. “Udah ah capek. Sekarang mau tidur dulu.” balasku sambil beranjak meninggalnya. Membiarkannya terdiam membisu di tempat. Mama hanya mengumankan nafasnya perlahan dan melanjutkan pekerjaannya.

Itulah yang ku lakukan setiap hari. Malas menanggapi pertanyaan atau wejengan yang diberikannya sehabis sekolah. “Nil, banyak belajar ya. Sekarang semester penentuan. Jangan tidur malam-malam ya!” kata mama suatu kali. “Mama cerewet banget sih.” balasku sinis. Seringkali kalimat itu terucap ketika aku sedang sibuk bermain atau mengerjakan PR. Aku heran mama kok tidak bosan-bosannya menggangguku setiap saat.

“Nil, sudah makan belum?”

“Nil, sudah mandi belum?”

“Nil, sudah belajar belum?”

Cukup! Aku muak mendengar pertanyaannya yang sama setiap hari. Ingin sekali rasanya menghindari mama. Membebaskan telingaku dari omelan atau nasihatnya yang panjang lebar. Ku pikir mama hanya bisa mengekangku dan melarangku ini dan itu. “Nil, jangan main terlalu lama.” “Nil, jangan tidur terlalu malam.” dan berjuta “Nil, jangan…” Aku sempat berpikir mama ibarat borgol yang mengikat tanganku ke mana-mana. Hampir semua hal yang ku inginkan dilarangnya. Mama sudah merampas kebebasanku, pikirku suatu kali.

Suatu kali, sekolahku mengadakan pertemuan orang tua. Aku berjanji takkan pernah mengajaknya ke pertemuan sekolah. “Mama cuma bikin aku malu saja.” kataku padanya ketika ku serahkan surat edaran pertemuan orang tua padanya. Mama tampak sedih mendengar ucapanku. Tapi aku tak peduli. Aku lebih memilih papa untuk berangkat ke pertemuan orang tua di sekolahku. Aku malu teman-temanku mengenal sosok mamaku yang ndeso dan kuno itu. Bayangkan mau ditaruh ke mana mukaku jika teman-temanku membandingkan mamanya dengan mamaku. Aku bisa menciut seperti liliput barangkali.

Aku tak pernah mempedulikan perasaannya. Suatu kali, mama mengantarku ke sekolah untuk mengikuti perlombaan. Kebetulan aku harus berkumpul di rumah teman untuk mempersiapkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan. Jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB saat itu karena kami harus berangkat ke luar kota dengan mobil sekolah. Mama pun membawa mobilnya hingga ke depan pintu gerbang rumah temanku. “Ma, kok depan-depan banget sih?” protesku padanya. “Ga apa-apa kan? Mama pengen lihat teman-teman Daniel.” katanya polos. Sewaktu aku turun dari mobil, mama beranjak ingin turun menyusulku.

“Ma, udah ga usah turun. Malu sama teman-teman.” kataku padanya. Tampak ekspresi kekecewaan dan kesedihan yang amat sangat dalam di raut wajahnya. Aku pun beranjak pergi meninggalkannya dan hanya melambaikan tangan sekilas. Hatiku seolah terbuat dari baja yang tidak tahu betapa sakit hatinya mama dengan tingkah lakuku. Mama mengorbankan tidur nyenyaknya untuk mengantarkanku. Ku pikir itu semua wajar dilakukan semua orang tua di dunia, bukan?

Aku yakin semua orang berpikir aku anak paling kurang ajar dan durhaka sedunia. Parahnya lagi, aku tak pernah malu meminta tolong mama untuk membantuku ketika aku membutuhkannya. “Ma, bantuin bikinin kerajinan ini dong.” “Ma, bantuin beliin buku gambar A3.” “Ma, bantuin pijetin kepala.” Dan beribu-ribu permintaan lainnya yang ku ucapkan tanpa henti setiap hari. Mama tak pernah sekalipun menolak mentah-mentah permintaanku. Mama berusaha memenuhi semua keperluanku setiap saat.

Kadang mama tidak bisa memenuhi permintaanku yang banyak. “Maaf Nil, mama lagi sibuk sekarang. Nanti lagi ya.” Aku tak pernah peduli padanya. “Bilang aja mama ga mau nurutin permintaan Daniel. Ya kan?” kataku kencang. “Bukannya ga mau. Mama benar-benar sibuk sekarang.” balasnya perlahan. “Udah ah. Capek minta tolong sama mama. Susah.” kataku sambil meninggalkannya. Aku kesal karena mama tidak bisa memenuhi permintaanku yang menurutku amat sangat sederhana ini. Ku lihat mata mama berbinar, namun ia tidak pernah menangis.

Suatu kali, mama juga pernah meminta tolong padaku. “Nil, tolong jagain rumah ya.” pintanya padaku. “Enak aja. Daniel capek. Mama kok ga punya perasaan sih?” bentakku padanya. Aku pun beranjak masuk ke kamar. Tak lagi mempedulikan panggilannya. Mama pun pergi. Aku yakin mama memendam rasa kecewa padaku. Tapi aku tak peduli. Mama tidak boleh merusak waktu istirahatku. Ku biarkan mama kewalahan sendirian mengerjakan segala sesuatunya sendiri ketika papa sedang pergi ke luar kota.

Mama tidak pernah lelah menyapaku sepulang sekolah. Pekerjaan papa yang berat pun sanggup ditanganinya dengan baik. Semua dilakukan tanpa keluh kesah ataupun penyesalan. Semua dilakukannya dengan kesungguhan hati. Aku heran dengan mama. Kok bisa-bisanya ya seorang mama tegar dibentak, dihina, dan dijelek-jelekkan oleh anaknya sendiri? Aku tak mengerti sebenarnya mama terbuat dari apa. Aku sendiri saja sudah naik darah ketika direndahkan orang lain. Apa sebenarnya rahasia kekuatan mama?

Mama pernah mengantarku ke ajang perlombaan di Jakarta. Mama sengaja menyempatkan diri pergi untuk menemaniku. Dengan angkuh, aku berjalan di depannya. Tak peduli mama berusaha mengejarku. Gengsi banget melihat mama berjalan beriringan denganku. Aku pun tiba di lokasi lomba dan memutuskan untuk duduk sejauh mungkin dengan mama. Aku berharap tidak ada seorangpun yang tahu wanita tua yang duduk di kursi deretan belakang itu adalah mamaku. Betapa jahatnya hatiku saat itu pada mama.

Perlombaan pun berlangsung begitu lama hingga akhirnya tiba pada saat pengumuman. Namaku sama sekali tidak disebut dalam daftar pemenang. Seketika dunia, langit, dan Bumi serasa runtuh menimpaku. Sakit, pedih, kecewa, dan putus asa seketika mengisi rongga hatiku. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, kok begini jadinya. Aku kan sudah berusaha sebaik mungkin. Aku berusaha tenang dan sabar menghadapi kenyataan pahit ini, tapi tidak bisa.

Mama pun datang menghampiri dan mengajakku pulang. Aku stres, pusing, dan rasanya ingin meluapkan semua kesedihanku. “Nil, namanya juga perlombaan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Mama tahu Daniel udah melakukan yang terbaik dan mama bangga sama Daniel.” kata mama sambil mengusap keningku. Aku terdiam selama berada dalam perjalanan pulang. Ucapan mama seolah menyadarkanku dari kebutaan yang selama ini mendekapku. Ya, mama ternyata sayang padaku.

Semenjak itu, aku sadar pada kesalahan besar yang ku perbuat pada mama. Mama yang sudah melahirkan dan membesarkanku dalam kandungan selama 9 bulan. Mama yang sudah merawat dan mendidikku hingga saat ini. Betapa bodohnya aku. Aku tak pernah menghiraukan nasihat-nasihatnya untuk kebaikan hidupku. Aku tak pernah membayangkan betapa sakitnya hati mama ketika aku malu mengajaknya ke sekolah dan mengenalkannya pada teman-temanku. Aku tak peduli seberapa sering mama meminta tolong padaku, sekalipun mama selalu berusaha memenuhi permintaanku. Oh, betapa durhakanya aku sebagai anakmu, Mama.

Hingga saat-saat terburuk kehidupanku datang, aku baru sadar Tuhan menciptakan mama untuk menjadi guardian angelku. Malaikat yang senantiasa menghibur dan memulihkan hatiku yang sedang dilanda kekecewaan dan kesedihan. Aneh, mama tak sekalipun merasa enggan atau malas memberikan tangannya untuk mengusap airmataku. Mama tak pernah dendam atas perilaku kurang ajar yang ku lakukan selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Mama selalu tersenyum dan siap mengulurkan tangannya untuk memelukku. Membuatku mengerti bahwa mama benar-benar mencintaiku. Membuatku menyadari bahwa masih ada orang yang mau mengerti perasaanku.

Apakah teman-temanku peduli dengan rasa sakit yang ku derita setelah kekalahan itu? Jawabannya tidak sama sekali. Teman hanya ada di saat ku senang dan bahagia, selebihnya EGP (Emang Gue Pikirin). Padahal sudah berapa banyak hal yang sudah ku korbankan untuk temanku? Membantu mereka mengerjakan tugas atau sekedar menemani jalan-jalan. Itukah balasan mereka untukku? Seketika mataku tertuju pada mama. Aku malu. Aku tak sanggup lagi menatap wajah tua itu. Wajah yang dibangun dengan ketegaran dan kasih sayang yang abadi pada anak-anaknya. Mama tak pernah sekalipun melupakanku, sekalipun aku berada dalam titik terendah dalam kehidupanku sekalipun.

Setiap hari, mama berusaha membangkitkanku dari kekecewaan itu. Lambat laun hatiku luruh oleh perhatian dan kasih sayangnya. Mama memberiku semangat. “Masih ada hari esok, Nil. Jangan berhenti sampai di sini karena satu kegagalan.” katanya perlahan. Hingga akhirnya aku bangkit kembali. Cinta mama telah mengisi pori-pori hatiku yang luka dan menutupnya dengan sentuhan kasih sayang. Betapa manjurnya cinta mama mengobati luka hatiku.

Aku bertanya dalam hati. Terbuat dari apakah hati mama? Aku heran betapa tegar dan kuatnya mama mengalami penghinaan terbesar dari anaknya, darah dagingnya sendiri. Apa mama pernah menyesal melahirkanku 17 tahun yang lalu dengan tingkah lakuku selama ini? Berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku ke dunia, menyekolahkan, dan mendidikku selama 17 tahun. Dan apa yang mama terima selama ini dariku? Aku membalas penderitaannya selama 9 bulan mengandungku dengan mencaci makinya. Aku membalas keringat dan kesabarannya mengajariku berhitung dan membaca dengan menghinanya. Aku membalas semua jasa dan kebaikan yang telah mama berikan dengan kejahatan. Bahkan aku pernah menyesal punya mama yang cerewet seperti ini.

Mama, maafkan aku. Aku tak sadar selama ini mama sudah memberikan semua yang terbaik buat hidupku. Aku tak pernah menghargai semua yang telah kau lakukan. Mama, aku malu. Malu dengan segala tingkah lakuku. Malu melihat sosokmu yang tulus. Aku merasa tidak layak menjadi anakmu. Anak yang bisa kau banggakan. Anak yang mencintai mamanya dengan sepenuh hati. Mama, maukah kau memaafkan segala perbuatanku yang menyakiti hatimu selama ini?

Mama tersenyum mendengar pengakuanku. Ia berkata, “Nil, hati seorang ibu itu ibarat sebuah lautan yang dalam. Menyimpan suka, duka, luka, dan kenangan tanpa batas. Segala kesedihan semua mama tampung dalam hati. Semua rasa kecewa dalam hati mama hilang ketika mendoakanmu. Mendoakan supaya suatu hari nanti Daniel bisa berubah. Seburuk, sejelek, atau sejahat apapun, Daniel tetep anak mama yang paling mama sayangi. Mama sudah memaafkanmu, Nil. Mama hanya minta satu hal supaya kamu bisa jadi anak yang baik.” kata mama sambil mengelus-elus rambutku. Aku pun memeluknya dan menangis. Mama masih mau menerimaku sebagai anaknya.

Aku sadar masih banyak hal yang harus ku ubah dalam diriku. Aku berusaha menghilangkan sifat burukku pada mama. Aku tahu masih banyak hal yang mengecewakannya, namun aku akan berusaha membahagiakan mama. Aku tak ingin semuanya terlambat untuk membalas kasih sayang mama selama ini. Sudah cukup sampai di sini saja aku hilang dalam padang belantara hidupku. Aku beruntung masih punya mama yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Berbeda dengan teman-temanku atau mereka yang sudah tidak mempunyai mama.

Hati mama sama seperti Gery Chocolatos. Meluluhkan hatiku bagai lelehan coklat pasta di lidah. Melegakan jiwaku bagai tiap gigitan Chocolatos. Memberiku kasih sayang ibarat coklat yang tak pernah habis di lidah. Mama mengerti dan peduli keinginanku seperti Gery Chocolatos yang menyajikan stik coklatnya di waktu senggangku.

Aku akan menjaga mama sampai garis akhir. Ya, itulah janjiku padamu, Mama. Kini ku lihat sosokmu tersenyum menyambutku sepulang sekolah. “Semoga kau menjadi anak yang sukses.” doamu padaku di setiap waktu. Terima kasih mama untuk cinta yang kau berikan selama ini.

~ oOo ~

Saturday, July 31, 2010

Bangga Jadi Anak Bangsa

Bangga Jadi Anak Bangsa
Oleh. Daniel Hermawan

Belia pasti tahu dong tren fashion dan rambut yang sedang digandrungi remaja saat ini. Mulai dari gaya harajuku hingga sambung rambut, seolah tidak lepas dari kehidupan kita dewasa ini. Banyak remaja bangga setelah mengadaptasi gaya yang dipopulerkan bangsa lain. Status manusia up to date dan fashionista pun seakan melekat dalam diri kita setelah mengikuti tren gaya yang beredar.

Era globalisasi memang membuat pertukaran budaya antarbangsa berlangsung sangat cepat. Budaya asing yang awalnya tabu untuk dilakukan bangsa kita, kini menjadi tren yang amat membudaya di Indonesia. Salah satu contohnya adalah budaya memakai tank top. Pada masa orang tua kita, budaya berpakaian seperti ini belum dikenal. Wanita Indonesia umumnya harus memakai pakaian tertutup semacam kebaya untuk menjaga kesopanan. Sekarang, pakaian model terbuka sudah menjadi mode pasaran di Indonesia.

Memang tak dapat dimungkiri, remaja adalah masa untuk mencari jati diri. Sayangnya karena banyaknya pengaruh budaya yang ditularkan lewat media, terutama televisi dan internet, remaja seakan dituntut harus mengikuti tren tertentu untuk bisa dianggap gaul. Padahal kenyataannya tidak demikian, bukan? Jika saja pola pikir kita terhadap budaya bangsa sudah baik, tentu kita bisa mengadaptasi budaya Indonesia sebagai tren baru yang tidak kalah uniknya dengan yang sudah ada sekarang.

Coba lihat negara Jepang yang memegang teguh budaya leluhurnya. Mereka tak tergoyahkan dalam memakai kimono yang kita anggap jadul. Justru mereka menjadikannya pakaian wajib. Sikap inilah yang harus muncul dalam diri kita sebagai anak bangsa. Sudah saatnya kita sadar untuk tidak copy paste budaya asing dan menjadi diri kita sendiri. Rasanya sangat tidak adil bagi Indonesia, jika anak bangsanya lebih cinta budaya asing dibanding budaya nenek moyangnya.

Mulailah untuk mencintai budaya bangsa, baik itu batik, angklung, kebaya, kesopanan, bahasa Indonesia, dan budaya Indonesia lainnya. Bangsa kita dikenal karena keanekaragaman budayanya yang mempesona. Tentu tugas kita sebagai anak bangsa adalah melestarikan dan mengembangkan budaya tersebut agar lebih dikenal oleh masyarakat dunia. Sudah saatnya kita menciptakan tren baru, bukan lagi menjadi pengikut mode. Dengan begitu, kita bangga menjadi anak bangsa yang kreatif dan inovatif dalam menjunjung tinggi budaya Indonesia.

~ oOo ~