Wednesday, September 22, 2010

The Sunless City Built on Rock: Opening the StarG8 via Patricia Arquette





Tomorrow on the Equinox and beginning of Libra I head on Calm Air to the Northern Mantioba town of FLIN FLON.


The town is named after a character in a book called THE SUNLESS CITY.


Flin Flon is short for Josiah FLINTabbatey FlonaTIN. The prospector who goes into the bottomless lake in a submarine and finds a city ruled by women, streets made of gold, tin as currency. He is a bachelor so he escapes out of a crater of an old volcano.

Here is a classic Canadian short film by the National Film Board about Flin Flon and how it got it's peculiar name. I remember it from seeing it on TV as a child.


The cartoonist Al Cap designed a version of Flin Flon which is a now a statue in the town.

While in Flin Flon I will get the chance to edit "Hair Peace" the next Radio8Balll collaboration with Kotze starring Patricia Arquette.

Patricia is a Portal of Balance/Libra.


Jake tells me Flin Flon sounds like the movie City of Ember. Which is about a sunless city. I just downloaded it and I plan to watch the torrent during my Calm Air flight tomorrow afternoon.


Which is curious as the poster highlights the letter E with a lighting bolt and E is the 5th letter of the alphabet and the 5th planet from the sun (which is also a really big 5 right now high in the fall sky). The lightning bolt is a symbol of Jupiter. All of which was an inspiration of this Channel No. 5 collage I did last week.


And this is still the month of Step EMBER.

OCTOBER stands out from the other two Ember Months (NovEMBER & decEMBER).

October is an anagram for: TO BE ROC.

Who the heck knows what lays ahead.

Will report in.

Peach In Peach Out

Jim

Hati Seorang Ibu

Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu
Persembahan UNGU & Chocolatos

Hati Seorang Ibu
By. Daniel Hermawan

“Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.”
(Marion C. Garretty)

Ku amati lekat sosok wanita tua yang senantiasa menyambutku sepulang sekolah. “Sudah pulang, Nil? Gimana tadi sekolahnya? Susah gak?” Itulah pertanyaan rutin yang selalu dilayangkannya padaku. Pertanyaan yang kadang membuatku jengkel dan bosan. “Udah ah capek. Sekarang mau tidur dulu.” balasku sambil beranjak meninggalnya. Membiarkannya terdiam membisu di tempat. Mama hanya mengumankan nafasnya perlahan dan melanjutkan pekerjaannya.

Itulah yang ku lakukan setiap hari. Malas menanggapi pertanyaan atau wejengan yang diberikannya sehabis sekolah. “Nil, banyak belajar ya. Sekarang semester penentuan. Jangan tidur malam-malam ya!” kata mama suatu kali. “Mama cerewet banget sih.” balasku sinis. Seringkali kalimat itu terucap ketika aku sedang sibuk bermain atau mengerjakan PR. Aku heran mama kok tidak bosan-bosannya menggangguku setiap saat.

“Nil, sudah makan belum?”

“Nil, sudah mandi belum?”

“Nil, sudah belajar belum?”

Cukup! Aku muak mendengar pertanyaannya yang sama setiap hari. Ingin sekali rasanya menghindari mama. Membebaskan telingaku dari omelan atau nasihatnya yang panjang lebar. Ku pikir mama hanya bisa mengekangku dan melarangku ini dan itu. “Nil, jangan main terlalu lama.” “Nil, jangan tidur terlalu malam.” dan berjuta “Nil, jangan…” Aku sempat berpikir mama ibarat borgol yang mengikat tanganku ke mana-mana. Hampir semua hal yang ku inginkan dilarangnya. Mama sudah merampas kebebasanku, pikirku suatu kali.

Suatu kali, sekolahku mengadakan pertemuan orang tua. Aku berjanji takkan pernah mengajaknya ke pertemuan sekolah. “Mama cuma bikin aku malu saja.” kataku padanya ketika ku serahkan surat edaran pertemuan orang tua padanya. Mama tampak sedih mendengar ucapanku. Tapi aku tak peduli. Aku lebih memilih papa untuk berangkat ke pertemuan orang tua di sekolahku. Aku malu teman-temanku mengenal sosok mamaku yang ndeso dan kuno itu. Bayangkan mau ditaruh ke mana mukaku jika teman-temanku membandingkan mamanya dengan mamaku. Aku bisa menciut seperti liliput barangkali.

Aku tak pernah mempedulikan perasaannya. Suatu kali, mama mengantarku ke sekolah untuk mengikuti perlombaan. Kebetulan aku harus berkumpul di rumah teman untuk mempersiapkan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan. Jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB saat itu karena kami harus berangkat ke luar kota dengan mobil sekolah. Mama pun membawa mobilnya hingga ke depan pintu gerbang rumah temanku. “Ma, kok depan-depan banget sih?” protesku padanya. “Ga apa-apa kan? Mama pengen lihat teman-teman Daniel.” katanya polos. Sewaktu aku turun dari mobil, mama beranjak ingin turun menyusulku.

“Ma, udah ga usah turun. Malu sama teman-teman.” kataku padanya. Tampak ekspresi kekecewaan dan kesedihan yang amat sangat dalam di raut wajahnya. Aku pun beranjak pergi meninggalkannya dan hanya melambaikan tangan sekilas. Hatiku seolah terbuat dari baja yang tidak tahu betapa sakit hatinya mama dengan tingkah lakuku. Mama mengorbankan tidur nyenyaknya untuk mengantarkanku. Ku pikir itu semua wajar dilakukan semua orang tua di dunia, bukan?

Aku yakin semua orang berpikir aku anak paling kurang ajar dan durhaka sedunia. Parahnya lagi, aku tak pernah malu meminta tolong mama untuk membantuku ketika aku membutuhkannya. “Ma, bantuin bikinin kerajinan ini dong.” “Ma, bantuin beliin buku gambar A3.” “Ma, bantuin pijetin kepala.” Dan beribu-ribu permintaan lainnya yang ku ucapkan tanpa henti setiap hari. Mama tak pernah sekalipun menolak mentah-mentah permintaanku. Mama berusaha memenuhi semua keperluanku setiap saat.

Kadang mama tidak bisa memenuhi permintaanku yang banyak. “Maaf Nil, mama lagi sibuk sekarang. Nanti lagi ya.” Aku tak pernah peduli padanya. “Bilang aja mama ga mau nurutin permintaan Daniel. Ya kan?” kataku kencang. “Bukannya ga mau. Mama benar-benar sibuk sekarang.” balasnya perlahan. “Udah ah. Capek minta tolong sama mama. Susah.” kataku sambil meninggalkannya. Aku kesal karena mama tidak bisa memenuhi permintaanku yang menurutku amat sangat sederhana ini. Ku lihat mata mama berbinar, namun ia tidak pernah menangis.

Suatu kali, mama juga pernah meminta tolong padaku. “Nil, tolong jagain rumah ya.” pintanya padaku. “Enak aja. Daniel capek. Mama kok ga punya perasaan sih?” bentakku padanya. Aku pun beranjak masuk ke kamar. Tak lagi mempedulikan panggilannya. Mama pun pergi. Aku yakin mama memendam rasa kecewa padaku. Tapi aku tak peduli. Mama tidak boleh merusak waktu istirahatku. Ku biarkan mama kewalahan sendirian mengerjakan segala sesuatunya sendiri ketika papa sedang pergi ke luar kota.

Mama tidak pernah lelah menyapaku sepulang sekolah. Pekerjaan papa yang berat pun sanggup ditanganinya dengan baik. Semua dilakukan tanpa keluh kesah ataupun penyesalan. Semua dilakukannya dengan kesungguhan hati. Aku heran dengan mama. Kok bisa-bisanya ya seorang mama tegar dibentak, dihina, dan dijelek-jelekkan oleh anaknya sendiri? Aku tak mengerti sebenarnya mama terbuat dari apa. Aku sendiri saja sudah naik darah ketika direndahkan orang lain. Apa sebenarnya rahasia kekuatan mama?

Mama pernah mengantarku ke ajang perlombaan di Jakarta. Mama sengaja menyempatkan diri pergi untuk menemaniku. Dengan angkuh, aku berjalan di depannya. Tak peduli mama berusaha mengejarku. Gengsi banget melihat mama berjalan beriringan denganku. Aku pun tiba di lokasi lomba dan memutuskan untuk duduk sejauh mungkin dengan mama. Aku berharap tidak ada seorangpun yang tahu wanita tua yang duduk di kursi deretan belakang itu adalah mamaku. Betapa jahatnya hatiku saat itu pada mama.

Perlombaan pun berlangsung begitu lama hingga akhirnya tiba pada saat pengumuman. Namaku sama sekali tidak disebut dalam daftar pemenang. Seketika dunia, langit, dan Bumi serasa runtuh menimpaku. Sakit, pedih, kecewa, dan putus asa seketika mengisi rongga hatiku. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku bertanya-tanya dalam hati, kok begini jadinya. Aku kan sudah berusaha sebaik mungkin. Aku berusaha tenang dan sabar menghadapi kenyataan pahit ini, tapi tidak bisa.

Mama pun datang menghampiri dan mengajakku pulang. Aku stres, pusing, dan rasanya ingin meluapkan semua kesedihanku. “Nil, namanya juga perlombaan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Mama tahu Daniel udah melakukan yang terbaik dan mama bangga sama Daniel.” kata mama sambil mengusap keningku. Aku terdiam selama berada dalam perjalanan pulang. Ucapan mama seolah menyadarkanku dari kebutaan yang selama ini mendekapku. Ya, mama ternyata sayang padaku.

Semenjak itu, aku sadar pada kesalahan besar yang ku perbuat pada mama. Mama yang sudah melahirkan dan membesarkanku dalam kandungan selama 9 bulan. Mama yang sudah merawat dan mendidikku hingga saat ini. Betapa bodohnya aku. Aku tak pernah menghiraukan nasihat-nasihatnya untuk kebaikan hidupku. Aku tak pernah membayangkan betapa sakitnya hati mama ketika aku malu mengajaknya ke sekolah dan mengenalkannya pada teman-temanku. Aku tak peduli seberapa sering mama meminta tolong padaku, sekalipun mama selalu berusaha memenuhi permintaanku. Oh, betapa durhakanya aku sebagai anakmu, Mama.

Hingga saat-saat terburuk kehidupanku datang, aku baru sadar Tuhan menciptakan mama untuk menjadi guardian angelku. Malaikat yang senantiasa menghibur dan memulihkan hatiku yang sedang dilanda kekecewaan dan kesedihan. Aneh, mama tak sekalipun merasa enggan atau malas memberikan tangannya untuk mengusap airmataku. Mama tak pernah dendam atas perilaku kurang ajar yang ku lakukan selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Mama selalu tersenyum dan siap mengulurkan tangannya untuk memelukku. Membuatku mengerti bahwa mama benar-benar mencintaiku. Membuatku menyadari bahwa masih ada orang yang mau mengerti perasaanku.

Apakah teman-temanku peduli dengan rasa sakit yang ku derita setelah kekalahan itu? Jawabannya tidak sama sekali. Teman hanya ada di saat ku senang dan bahagia, selebihnya EGP (Emang Gue Pikirin). Padahal sudah berapa banyak hal yang sudah ku korbankan untuk temanku? Membantu mereka mengerjakan tugas atau sekedar menemani jalan-jalan. Itukah balasan mereka untukku? Seketika mataku tertuju pada mama. Aku malu. Aku tak sanggup lagi menatap wajah tua itu. Wajah yang dibangun dengan ketegaran dan kasih sayang yang abadi pada anak-anaknya. Mama tak pernah sekalipun melupakanku, sekalipun aku berada dalam titik terendah dalam kehidupanku sekalipun.

Setiap hari, mama berusaha membangkitkanku dari kekecewaan itu. Lambat laun hatiku luruh oleh perhatian dan kasih sayangnya. Mama memberiku semangat. “Masih ada hari esok, Nil. Jangan berhenti sampai di sini karena satu kegagalan.” katanya perlahan. Hingga akhirnya aku bangkit kembali. Cinta mama telah mengisi pori-pori hatiku yang luka dan menutupnya dengan sentuhan kasih sayang. Betapa manjurnya cinta mama mengobati luka hatiku.

Aku bertanya dalam hati. Terbuat dari apakah hati mama? Aku heran betapa tegar dan kuatnya mama mengalami penghinaan terbesar dari anaknya, darah dagingnya sendiri. Apa mama pernah menyesal melahirkanku 17 tahun yang lalu dengan tingkah lakuku selama ini? Berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku ke dunia, menyekolahkan, dan mendidikku selama 17 tahun. Dan apa yang mama terima selama ini dariku? Aku membalas penderitaannya selama 9 bulan mengandungku dengan mencaci makinya. Aku membalas keringat dan kesabarannya mengajariku berhitung dan membaca dengan menghinanya. Aku membalas semua jasa dan kebaikan yang telah mama berikan dengan kejahatan. Bahkan aku pernah menyesal punya mama yang cerewet seperti ini.

Mama, maafkan aku. Aku tak sadar selama ini mama sudah memberikan semua yang terbaik buat hidupku. Aku tak pernah menghargai semua yang telah kau lakukan. Mama, aku malu. Malu dengan segala tingkah lakuku. Malu melihat sosokmu yang tulus. Aku merasa tidak layak menjadi anakmu. Anak yang bisa kau banggakan. Anak yang mencintai mamanya dengan sepenuh hati. Mama, maukah kau memaafkan segala perbuatanku yang menyakiti hatimu selama ini?

Mama tersenyum mendengar pengakuanku. Ia berkata, “Nil, hati seorang ibu itu ibarat sebuah lautan yang dalam. Menyimpan suka, duka, luka, dan kenangan tanpa batas. Segala kesedihan semua mama tampung dalam hati. Semua rasa kecewa dalam hati mama hilang ketika mendoakanmu. Mendoakan supaya suatu hari nanti Daniel bisa berubah. Seburuk, sejelek, atau sejahat apapun, Daniel tetep anak mama yang paling mama sayangi. Mama sudah memaafkanmu, Nil. Mama hanya minta satu hal supaya kamu bisa jadi anak yang baik.” kata mama sambil mengelus-elus rambutku. Aku pun memeluknya dan menangis. Mama masih mau menerimaku sebagai anaknya.

Aku sadar masih banyak hal yang harus ku ubah dalam diriku. Aku berusaha menghilangkan sifat burukku pada mama. Aku tahu masih banyak hal yang mengecewakannya, namun aku akan berusaha membahagiakan mama. Aku tak ingin semuanya terlambat untuk membalas kasih sayang mama selama ini. Sudah cukup sampai di sini saja aku hilang dalam padang belantara hidupku. Aku beruntung masih punya mama yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Berbeda dengan teman-temanku atau mereka yang sudah tidak mempunyai mama.

Hati mama sama seperti Gery Chocolatos. Meluluhkan hatiku bagai lelehan coklat pasta di lidah. Melegakan jiwaku bagai tiap gigitan Chocolatos. Memberiku kasih sayang ibarat coklat yang tak pernah habis di lidah. Mama mengerti dan peduli keinginanku seperti Gery Chocolatos yang menyajikan stik coklatnya di waktu senggangku.

Aku akan menjaga mama sampai garis akhir. Ya, itulah janjiku padamu, Mama. Kini ku lihat sosokmu tersenyum menyambutku sepulang sekolah. “Semoga kau menjadi anak yang sukses.” doamu padaku di setiap waktu. Terima kasih mama untuk cinta yang kau berikan selama ini.

~ oOo ~

Tuesday, September 21, 2010

glass house - Secret Rita


am i about to do something petty? Because, you know what they say. . .

actually, I'm about do do another fucking 3 kings post.

Glass House? The nuance behind the glass house has to do with the transparent fact of The NOW. In the mid 90's, sincerity was not cool. Sarcasm, and irony provided one with distance--an aloofness, to protect one's cool. One's image (form) was highly groomed and maintained. Everything was a reflection upon one's image.


NOW, our technology has opened us UP. We reveal more and more. . .


What's my fucking deal? I think about this often. I'm compelled to explore a philosophy, and it rings, now. It is transparent enough to lead me to the next part. As such, I'm not creating "normal" sync posts much lately. Perhaps this post will elucidate this some, perhaps not.

I've become somewhat of a student of the whole. That is, I've turned my gaze inward. In my early years of sync, I looked upon the dream, and "reality" and saw pattern. Lately I've looked at The Whole, to see those same patterns manifest--part of this is understanding those of us who have been called and compelled to make their lives transparent for The NOW. Perhaps the philosophy is necessary. . .






Zeus/Mind
needs heart to balance intellect. . .


Heart/Earth
needs to overcome his fear and die. . .


Hades/Underworld
he needs mind to understand the dream. . .


being
needs to wake up and bring us home. . .

The best model to embody this philosophy that I've been exploring for the better part of this year, has been a tree. It communicates the wholeness of the parts. (I think I'm moving beyond this though, in favor of a new model that explains The NOW much better, perhaps that's the end of the post though. . . . or the beginning?)


So how do we get at the equation 3 =1? Something that had been a "problem" for me, and part of the impetus for this line of thought is the notion that Winnipeg = truth. My rational reasoning mind figured. . . Winnipeg = truth. I live in Boise. Winnipeg ≠ Boise. My life is a lie. And that was harsh, but that is logic for you.

Twitter is teaching me that like in The Matrix, there is only The City. In The NOW, The City is same. Those of us who dwell in the city, dwell in the heart of being. Earth is the heart of being as well. Often, however, we feel the need to leave the city either to visit The Wasteland/Ocean or The Forrest. It is an integrating process that bridges our societal duality. Modernity created The City apart from nature, and it is this perceived separateness that is killing the planet. The NOW and its mystical (not logical) solution is going integrate the three kingdoms of being bringing The Forrest & The Wasteland into The City. My brain wants to understand this notion, but it's not "brain" thing.

Speaking of brains. . . This morning, after dropping little Buddha off at school, and while running my Jupiter dog in the hills, I finally took in my own kingdoms. Should I make my glass house a little more transparent?




So there they are, my three jobs.
The UPper photo is my money job. It is where I work. ( I honestly can't believe that it should occupy the "Heaven" slot.) I suppose I will have to justify this somehow.

Home is where the heart is. Notice my house number on the middle image: 1809. It is my number and a huge sync in my life. That number recently helped me over the rational duality of my life being a lie.

The lowest image

--just had a flash about my tree


As I try and "place" things into categories, the "spinning" (♋) of The NOW illustrates the shortcomings of a rational description, or breaking into parts, the now unified whole. . . The Brain is one?

The Hemispheres of the brain mirror one another. Left is pop. Right is Mom. God & The Devil. Heaven and Hell.

The lowest image above represents The Sync Whole. My work at The Whole and at my money job mirror each other. I suppose it was when I noticed the alignment of my kingdoms, that my posts began to become more personal. I can't separate the dream from me anymore. What I'm doing as the dream happens, is the same thing. And this is further illustrated, in that those of us making our houses more transparent, seem to do such similar things all at the same time. The weekend Jupiter was smashed, Jim & Jake were in Ceremony and I was in retreat in Seattle. Just recently, Jim & Jake at the lake = me at the lake. Jim & I also were both in an alignment of liberty on Labor Day & on The 4th.

I suppose this is the reason, why I've become a student of the brain lately. A student of The Whole. My gaze lately has been focused not at the larger world of sync, but at the synkings. Funny too, I recall a desire after I had taken a sync lap, (a trip around the sun), to get into harder science to see if I couldn't bring a little peanut butter into my chocolate. See I am a child of divorce--alone since my mom and pop split. That's what I've been doing this Tiger--seeing if I can't get mom and dad talking again.

maybe I've droned on enough? I've tired of trying to fit things in boxes, when after all, it all spins. . . The NOW happens.



This is NOW. Everyone is following and Everyone is leading. The organism is whole.


i am creator and created and creating. all at once. kinda simplifies things, eh?

not reaLly.


in between perception and creation is us, there we Lie, dreaming, wishing... a universe of possibility, of infinity and eternity, all now Here nowhere, in the whole of synk.~toure

"This is one of my favorite things about ants -- the ant death spiral. Actually, it's a circular mill, first described in army ants by Schneirla (1944). A circle of army ants, each one following the ant in front, becomes locked into a circular mill. They will continue to circle each other until they all die."~The Ant Room



notice the flower? it could be perceived as a problem for the ants, but no, it just changes the flow. Everyone leads, Everyone follows. this is sync. it all syncs. this is alignment. a problem is in your mind, let go to the flow and you have no problems. . .

I like Jim's response to my initial desire to make the Death Spiral less dark:

theghostlight @Syncwinnipeg like your read on the ant spiral, wonder though if one couldn't read it opposite as well. . .

theghostlight @Syncwinnipeg thinking that maybe the flow will lead one out of a deadly pattern, or that one can break their programming and find center.

Syncwinnipeg @theghostlight Yes. But I tend to find the sync with what we fear most. Many fear becoming automatons likes ants in a death spiral.

Syncwinnipeg @theghostlight Perhaps this ant death spiral is symbolic of the role alignment with flow can have on ego death/stargate.

Syncwinnipeg @theghostlight I like the Ant Death Spiral because it resonates the Spiral/Black Hole as ANTenna.

I eventually embraced the darkness of the symbol while turning it in my mind, gnoticing how NOW it is. . .

theghostlight of course the spiral is a beautiful strange loop where everyone is leading and everyone is following (iCreate)--a pure symbol of alignment.

so, then. . .

What's my fucking deal?

I look inward. I am conscious.
I am consciousness becoming conscious of consciousness,
watching you watching.
I am a beautiful strange loop
and at the center is nothing.
See Explanation.  Clicking on the picture will download  the highest resolution version available.
enter the sync whole

Jake:
I was looking at this poster for an upcoming Diane Lane film and realized Secretariat is Secret Tiara or Crown. That was somewhat interesting as the movie is about a famous horse (Secretariat) who becomes the first in 25 years to win the U.S Triple Crown, a series of three Thoroughbred horse races.

It's the kind of thing I imagine people who write about sync notice all day and just gets tagged in the brain for future reference (or briefly mentioned on twitter) should something bring it up again or become associated in some other interesting way. Often they just seem to vanish.. Sometimes They Come Back.
Recently we saw that Tom Robbins escapes via portal, dug in his prison cell, hidden behind a poster of Raquel Welch. I wrote a post about it because I happened to see it the day after her birthday, the same day a fireball was spotted over Colombia.
Rita's Secret: The Rabbit Whole

The original lady covering his Rabbit Whole however is Rita Hayworth, most famous for her role in Gilda, where she does an iconic whipping of her hair as her head pops onto the screen, when we meet her for the first time. The trailer for the film starts this way and this moment is highlighted by Morgan Freeman in Shawshank Redemption as his favorite part.


Tiara is also Rita which means Secretariat can become Secret Rita. This seemed quite random and pointless which is always a very good sign.

In Hollywoodland Toni Mannix (Diane Lane from Secretariat), the wife of MGM studio executive Eddie Mannix (Bob Hoskins), is about to greet Rita Hayworth.
Bob Hoskin's, husband of Diane Lane in Hollywoodland, spies on Jessica Rabbit in Who Framed Roger Rabbit.

Writer Gary K. Wolf had based Jessica primarily on the cartoon character Red of Tex Avery's Red Hot Riding Hood.[1][2] According to animation director Richard Williams, other inspirations are Lauren Bacall, Rita Hayworth in Gilda (1946), and Veronica Lake (noted for her famous "Peek-A-Boo" hairstyle).[3]
Wikipedia Jessica Rabbit

Right now I am fascinated by the connection hair/hare(rabbit).

Diane Lane greets Rita, famous for her hair entrance in Gilda, who inspires Jessica Rabbit while Diane is married to Bob Hoskins...

Opportunistic and down on his luck Ben Affleck, as the future star of television's Adventures of Superman George Reeves, tries to sneak into an imminent photo op with Rita.
He is trying to catch some of her star power for himself as his acting career is going down hill.
Lane, his soon to be lover, spots his grift.


Ben is playing out Virgo/Nun (23 August – 23 September) with his highly praised The Town.
The Glass House is one of two films released on the weekend following 911 2001: A Space Odyssey , marker of the emergency C-section which has brought consciousness into form, fully birthed in 2010: The Year We Make Contact.

See Wikipedia 2001 In Film, Wide-release Movies
The only other wide release film on the weekend after the Twin Towers collapsed was Hardball.
What sticks out about these films, given the context mentioned above, is the presence of Diane Lane in both said movies.

The Hair crowns the head and is the Secret Tiara.

Peace In = Peace Out

In Never Been Kissed Drew Barrymore befriends Leelee Sobieski, the Star of The Glass House.
DB/42 goes to her prom as a Princess and is crowned as Queen with her Tiara.
She takes to the dance floor as Prom Queen and the Tiara and Rabbit strange attract.
Leelee shows up with her nerdish posse as part of a Double Helix DNA (dna/pan/whole) strand.
The coiling Hair wave and the Helix share resonance.

Thursday, September 16, 2010

Depok : Kota yang Merakyat

Lomba Blog Depok Kategori Sekolah Menengah Atas (SMA)
Tema : “Depok Peduli, Depok Berbagi, Depok Selalu di Hati”

Depok : Kota yang Merakyat



Depok
Kau hanyalah sebuah kota kecil
Bertengger di Jawa Barat
Berbatas ibukota dengan sejuta kesibukannya

Setiap hari jutaan orang berlalu lalang
Mencari kerja di antara deru kendaraan
Mengais setiap rupiah yang ada
Hanya demi sesuap nasi



Depok
Kota kecil nan tentram
Di mana kehidupan berputar
Hubungkan cinta dan harapan

Kau buktikan kejujuran
Dalam pelayanan dan baktimu
Kau curahkan kepahlawanan
Bela hak-hak mereka yang tertindas
Kau berikan kedamaian
Dengan keamanan yang handal
Kau tanamkan ketekunan
Meniti karier dari hari ke hari
Kau ciptakan kebersamaan
Membangun dengan semangat gotong royong
Kau lukiskan kedisplinan
Membayar pajak dengan rutin
Kau ukirkan kerukunan
Tegur, senyum, sapa liputi warga
Kau tunjukkan kekuatan
Kota kecil penuh prestasi
Kau tampilkan kesederhanaan
Hargai kehidupan sosial masyarakat
Kau amalkan kesabaran
Jalankan roda pemerintahan penuh karsa



Depok bukanlah kota tanpa arti
Bukan pula benalu ibukota
Depok adalah sebuah nilai
Nilai berharga yang harus dimiliki
Semua insan Indonesia

Pemerintah dan rakyat bahu membahu
Ciptakan Depok penuh mimpi
Gotong royong dan kebersamaan terjalin
Bersama membangun Depok
Jadikan Depok kota yang merakyat
Bukan kota para penguasa



Ku lihat kepedulian Depok
Depok berbagi kebahagiaan
Mewarnai kehidupan Indonesia
dengan mimpi dan harapan
Hidupkan nilai dan arti
yang hilang dari kehidupan modern



Depok
Teruslah berkarya
Teruslah berpacu
Baktikan diri untuk bangsa
Kau kan s’lalu ada di hatiku
Sekarang dan selamanya

~ oOo ~